Tampilkan postingan dengan label Unclassified. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unclassified. Tampilkan semua postingan
12 Januari 2019
Untukmu, Laki-laki yang Akan Menjadi Jodohku
Assalamualaikum, hai jodohku
Semoga kita segera dipertemukan
Sejenak, aku penasaran siapakah engkau
Seringnya, aku menaruh rasa iri padamu
Iya mas, aku iri padamu
Aku, yang belum tau siapa dirimu
Selalu berdoa pada Rabb ku agar engkau selalu terlindungi
Apakah engkau juga mendoakan hal yang sama untukku?
Sekali lagi, aku iri padamu mas
Aku, yang belum tau siapa dirimu
Selalu memohon pada Rabb ku agar engkau mendapat rizki yang cukup dan berkah
Meng-iba pada Rabb ku agar tercapai cita citamu
Apakah engkau juga melakukannya untukku?
Terkadang aku heran dengan diriku mas
Bagaimana bisa aku mendoakan engkau yg sama sekali belum ku ketahui
Yang masih menjadi misteri bagiku
Namun sudah menjadi kepastian yang tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya
Hai mas, aku tak sedang merayumu
Aku juga tak sedang memelas meminta cintamu
Karena aku yakin Allah lah yang akan membuncah kan rasa aneh itu pada hati kita berdua
Aku tak sedang berpuisi mas
Aku pernah menjaga jodoh orang lain bertahun-tahun yang kukira jodohku di masa penantianku untuk bertemu denganmu
Di masa penantianku saat ini mas
Aku hanya berharap kita bisa segera dipertemukan
Tanpa dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu
Tapi itu hanya sekedar harapan yang kusemogakan mas,
Karena aku tak tau
Rabb ku akan mempertemukan kita dahulu atau mempertemukan dengan kematian dulu
Untukmu, laki laki yang akan menjadi jodohku
Semangat berjuang menggapai cita-citamu mas
Jadilah bermanfaat untuk orang lain
Aku pun juga akan begitu
Semoga kita segera dipertemukan
Sejenak, aku penasaran siapakah engkau
Seringnya, aku menaruh rasa iri padamu
Iya mas, aku iri padamu
Aku, yang belum tau siapa dirimu
Selalu berdoa pada Rabb ku agar engkau selalu terlindungi
Apakah engkau juga mendoakan hal yang sama untukku?
Sekali lagi, aku iri padamu mas
Aku, yang belum tau siapa dirimu
Selalu memohon pada Rabb ku agar engkau mendapat rizki yang cukup dan berkah
Meng-iba pada Rabb ku agar tercapai cita citamu
Apakah engkau juga melakukannya untukku?
Terkadang aku heran dengan diriku mas
Bagaimana bisa aku mendoakan engkau yg sama sekali belum ku ketahui
Yang masih menjadi misteri bagiku
Namun sudah menjadi kepastian yang tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya
Hai mas, aku tak sedang merayumu
Aku juga tak sedang memelas meminta cintamu
Karena aku yakin Allah lah yang akan membuncah kan rasa aneh itu pada hati kita berdua
Aku tak sedang berpuisi mas
Aku pernah menjaga jodoh orang lain bertahun-tahun yang kukira jodohku di masa penantianku untuk bertemu denganmu
Di masa penantianku saat ini mas
Aku hanya berharap kita bisa segera dipertemukan
Tanpa dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu
Tapi itu hanya sekedar harapan yang kusemogakan mas,
Karena aku tak tau
Rabb ku akan mempertemukan kita dahulu atau mempertemukan dengan kematian dulu
Untukmu, laki laki yang akan menjadi jodohku
Semangat berjuang menggapai cita-citamu mas
Jadilah bermanfaat untuk orang lain
Aku pun juga akan begitu
11 Desember 2018
Kamu baca-bacain aku supaya mau ke kamu lagi ya?
Udah
ngerti Sayyidul Istigfar kan ya? Ku yakin kalian lebih fasih melafalkannya
daripada aku. Begitu pula tentang
faedahnya. Ku yakin kalian lebih mampu menjelaskan secara rinci.
Jadi,
beberapa tahun yang lalu Pak Kyai memberi ijazah amalan untuk membaca sayyidul
istigfar setelah Maghrib dan setelah Subuh. Saya sebagai murid, tentu saja
mencoba membiasakan diri untuk mengamalkan amalan dari Pak Kyai. Bu Nyai juga
pernah berpesan, gerakkan bibirmu ketika berdoa biar nggak kayak orang bisu,
ntar malaikatnya nyatet nya di buku amal begini “Rajin berdoa, keng buih”
(Rajin berdoa, tapi bisu :p)
Beberapa
waktu lalu, setelah sholat Maghrib saya lupa nggak baca sayyidul istighfar.
Lah, kok pas kebetulan di depan saya ada mantan ter- (Aku mau nulis terindah
tapi takut dilabrak -_- , nggak nulis terindah lah wong mantanku cuma 1, jadi
jelas terindah lagi :p). Spontan saja saya melafalkan sayyidul istighfar dengan
bibir bergerak namun tanpa suara. Eh lah dalah, mantanku lah kok matur ngeten, “Kon
moco mocoi aku ben seneng neng awakmu maneh?”, dengan nada sinis.
Astagfirullah!!11!!11!!
Spontan saya terkejut mendengarkan pernyataannya. Mengapa orang yang dulu ku sayang
jadi se-naif ini??wqwqwq. Saestu niki friend, kulo mbatin pas niku, “kok
sampean PD nemen toh mas, daripada men-dungo-i sampean, bukankah lebih baik
saya men-dungo-i #Mas R# yang udah ku nge-fans-i sejak SMP”. Hanya saja ku tak
berani mengungkapkannya secara langsung saat itu, karena ku tau orang yang di
hatinya sudah timbul benci, sebaik apapun niatmu, akan menjadi buruk di
matanya. (Sengaja di kode jadi #Mas R#, isin aku nek mas’e moco iki tenan :p)
Oke friend, sejak saat itu
ku berusaha keras biar nggak lupa baca sayyidul istighfar lagi biar nggak di
katain nge-doa-doa-in sang mantan biar jadi tertarik lagi sama aku. 24 November 2018
Pungguk Boleh Merindukan Bulan
Bagai pungguk merindukan
bulan. Suatu perumpamaan yang sudah biasa kita dengar saat mengenyam bangku
sekolah.
Pungguk, menurut KBBI, adalah burung elang malam (burung hantu) yang suka
memandang bulan. Dalam bahasa ilmiahnya, pungguk disebut Ninox
sentulata malaccensis
Sedangkan
merindukan, berasal dari kata "rindu" yang mendapat awalan me-
dan akhiran -kan. Kata rindu sendiri memiliki makna sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu: ia -- akan
kemerdekaan; 2 memiliki keinginan yang kuat untuk
bertemu
Yah,
pungguk merindukan bulan diartikan sebagai seseorang yang merindukan sesuatu
atau seseorang yang amat sulit bahkan dapat dikatakan mustahil untuk dicapai.
Bukan berarti tidak boleh ya, hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah mustahil
tercapai.
Pungguk pun
mengerti bahwa ia takkan mampu mencapai bulan, namun ia tetap setia memandangi
keindahan bulan di tengah malam. Sama seperti kita. Seringnya, ada ingin dalam
diri kita, yang kita sendiri udah tau nggak bakalan bisa mencapai.
Namun, yang
namanya berharap, tak kan pernah salah. Apalagi dengan kekuatan bulan dan
bintang (wqwq, bercanda :p). Apalagi dengan kekuatan Tuhan kita, tak ada yang
tak mungkin.
Nyambung
nggak nyambung, silakan disambungin aja, kadang kita merindukan seseorang yang
bukan milik kita (Ngefans.red). Tapi maaf, saya tidak sedang membahas fans
dalam dunia keartisan, namun kekaguman seseorang terhadap seseorang biasa yang
lain (lawan jenis).
Beberapa
wanita memilih seperti itu, menjadi pungguk yang terus memandangi bulan. Ya,
maksud saya mengagumi diam diam. Mengapa memilih diam diam? Karena, kalo
diutarakan ke orang lain, bahkan sahabat yang usil tapi tetap sayang, pasti
akan nyampek ke orangnya. Kan tengsin coy.
Selain itu,
beberapa wanita memilih untuk merindukan diam diam karena mereka tidak ingin
bertengkar dengan orang yang dikaguminya.(Coba kalo udah pacaran, pasti
bertengkar mulu). Merindukan diam diam, tak kan mengganggu orang yang kita
kagumi, selain itu, jika yang dikagumi lumayan banyak, maka tidak akan
menimbulkan yang namanya kecemburuan. wqwq.
Jadi,
seganteng, sealim, sebijak, sebaik, semanis, se-nyaman-in kayak apapun si pria,
wanita boleh mengaguminya meskipun kadang sangat mustahil sekali untuk bisa
memiliki.
Sssst. Ada
2 kemungkinan ketika pungguk ketahuan merindukan bulan. Pertama, si bulan
seneng dan kemungkinan membalas kerinduan pungguk dengan keindahannya. Kedua,
si bulan jadi illfeel.
2 Oktober 2018
Karena saya percaya
Yups, karena saya percaya dengan Tuhan saya, Allah. Karena saya percaya dengan-Nya bahwa apa yang terjadi saat ini pada saya adalah rencananya.
Meskipun banyak hal yg telah terjadi pada diri ini. Saya percaya Allah akan mengganti nya dengan sesuatu yang indah.
Ah gimana ya, ini blog kok jadi ajang curhat sih. Nggak papa lah, sekali dua kali, sampai keseringan 😂
Baru baru ini, pertunangan ane di batalin. 9 bulan berjalan tiba tiba di batalin, dan alasannya gabut dan terlalu mencla mencle banget menurut ane. Padahal kedua pihak ortu udah mau ngerencanain nikahan, eh si laki berubah pikiran.
Respon temen temen ane banyak yg gak percaya. Karena si laki baik banget (nggak berati aku jahat banget ya 😂). Setiap di introgasi, ane mesti dibilang bohong, lah apa muka ane ini muka muka pembohong? 😂
Beberapa Minggu yang lalu si laki post wajah baru cemiwiw barunya. Yeah dari sana mereka baru percaya kalo ane nggak bohong 😂
Kata ibuk ane, orang baik pasti dikelilingi orang baik. Alhamdulillah, ane nggak baik baik amat memurut versi ane, tapi ane bener bener dikelilingi orang yang baiknya tingkat dewa (it's mean baik pake banget)
Setiap ane main sama temen temen, mereka seperti lagi menjaga diri biar nggak keceplosan ngomong tentang si laki. Menurut ane, tujuan mereka pasti baik. Tapi, ane ngerasa nya jadi aneh. Ngobrol nya jadi kayak nggak seseru biasanya.
Kemudian nih, keluarga besar ane jadi dukung banget semua yang gue pingin. Termasuk daftar beasiswa yang dari dulu selalu diijinin setengah hati. Well, ane pun daftar beasiswa dari Kemenkeu.
Setelah beberapa kali tes selalu lolos, saya percaya ini udah jalan dari Allah. Tapi, di akhir ane gagal. Yaa, temen temen dan keluarga kayak yang hati hati banget mau ngomong sama ane, mungkin takut ane putus asa. Udah tunangan batal, masih nggak lolos beasiswa, wkwkwk.
Sebagian orang bilang ane sabar banget sih. Lah emang ane kudu ngapain. Ane bisa sabar banget karena orang disekeliling pun banyak ngasih motivasi motivasi. Dan lagi, ane tetep percaya sama Allah bakal ada ganti yang lebih emezeeng dari apa yang ane pikirin.
Barangkali aja lain waktu ane bisa dapat beasiswa yang lebih. Satu lagi, sapa tau aja jodoh nya juga cepet datang 😂 meskipun sebenarnya dari dulu pingin punya 1 pacar yang udah terus sampek nikah, jadi nggak ada cemburu dengan alasan inget mantan. Hahahaha. Eh, rencana Allah beda sama rencana ane. Ane di kasih satu mantan (kalo bisa cukup satu, jangan nambah lagi) mungkin biar ngerti rasanya nge-prank mantan 😂 (istilah nge-prank ini ane di ajari sama anak SD, dan ternyata lagi in di kanal yutub) 😂
Dari cerita nggak penting di atas, sebenarnya ane cuma mau bilang terus aja percaya sama Tuhan kalean. Tuhan itu nggak pernah jahat sama sama makhluknya. Tuhan punya rencana indah buat semua makhluk nya. Jangan cepet putus asa juga, nggak berhasil ya harus coba lagi. Try try try. Jangan lupa coba sesuatu yang baru biar kita bisa upgrade kapasitas diri kita biar jadi manusia yang berkualitas tinggi. Bibit unggul tcoy
Meskipun banyak hal yg telah terjadi pada diri ini. Saya percaya Allah akan mengganti nya dengan sesuatu yang indah.
Ah gimana ya, ini blog kok jadi ajang curhat sih. Nggak papa lah, sekali dua kali, sampai keseringan 😂
Baru baru ini, pertunangan ane di batalin. 9 bulan berjalan tiba tiba di batalin, dan alasannya gabut dan terlalu mencla mencle banget menurut ane. Padahal kedua pihak ortu udah mau ngerencanain nikahan, eh si laki berubah pikiran.
Respon temen temen ane banyak yg gak percaya. Karena si laki baik banget (nggak berati aku jahat banget ya 😂). Setiap di introgasi, ane mesti dibilang bohong, lah apa muka ane ini muka muka pembohong? 😂
Beberapa Minggu yang lalu si laki post wajah baru cemiwiw barunya. Yeah dari sana mereka baru percaya kalo ane nggak bohong 😂
Kata ibuk ane, orang baik pasti dikelilingi orang baik. Alhamdulillah, ane nggak baik baik amat memurut versi ane, tapi ane bener bener dikelilingi orang yang baiknya tingkat dewa (it's mean baik pake banget)
Setiap ane main sama temen temen, mereka seperti lagi menjaga diri biar nggak keceplosan ngomong tentang si laki. Menurut ane, tujuan mereka pasti baik. Tapi, ane ngerasa nya jadi aneh. Ngobrol nya jadi kayak nggak seseru biasanya.
Kemudian nih, keluarga besar ane jadi dukung banget semua yang gue pingin. Termasuk daftar beasiswa yang dari dulu selalu diijinin setengah hati. Well, ane pun daftar beasiswa dari Kemenkeu.
Setelah beberapa kali tes selalu lolos, saya percaya ini udah jalan dari Allah. Tapi, di akhir ane gagal. Yaa, temen temen dan keluarga kayak yang hati hati banget mau ngomong sama ane, mungkin takut ane putus asa. Udah tunangan batal, masih nggak lolos beasiswa, wkwkwk.
Sebagian orang bilang ane sabar banget sih. Lah emang ane kudu ngapain. Ane bisa sabar banget karena orang disekeliling pun banyak ngasih motivasi motivasi. Dan lagi, ane tetep percaya sama Allah bakal ada ganti yang lebih emezeeng dari apa yang ane pikirin.
Barangkali aja lain waktu ane bisa dapat beasiswa yang lebih. Satu lagi, sapa tau aja jodoh nya juga cepet datang 😂 meskipun sebenarnya dari dulu pingin punya 1 pacar yang udah terus sampek nikah, jadi nggak ada cemburu dengan alasan inget mantan. Hahahaha. Eh, rencana Allah beda sama rencana ane. Ane di kasih satu mantan (kalo bisa cukup satu, jangan nambah lagi) mungkin biar ngerti rasanya nge-prank mantan 😂 (istilah nge-prank ini ane di ajari sama anak SD, dan ternyata lagi in di kanal yutub) 😂
Dari cerita nggak penting di atas, sebenarnya ane cuma mau bilang terus aja percaya sama Tuhan kalean. Tuhan itu nggak pernah jahat sama sama makhluknya. Tuhan punya rencana indah buat semua makhluk nya. Jangan cepet putus asa juga, nggak berhasil ya harus coba lagi. Try try try. Jangan lupa coba sesuatu yang baru biar kita bisa upgrade kapasitas diri kita biar jadi manusia yang berkualitas tinggi. Bibit unggul tcoy
1 Oktober 2018
Punya banyak anak dan banyak orang tua
Beberapa bulan terakhir ini, tiap lagi keluar malem si bapak minta cepet cepet pulang. Kasian 3 anaknya, he say like that. Yes, yang dimaksud anak disini bukan anak kandungnya. 3 anak ini merupakan orang Madiun yang lagi kos di Jember, dan tiap pulang kerja selalu beli beli di rumah ane.
Kalau ada kelebihan rezeki, bapak ibuk mesti ngirim ketiga anaknya. Kami, anak kandungnya, tiap ketiga anak itu datang, we say "Pak/buk, anakmu teko" 😂 (tanpa merasa iri ye)
Semua temen ane, kakak, ato adek banyak banget yang di anggap anak sama bapak/ibuk. Apalagi temen yang lagi nge-kost. Sebisa mungkin pas mereka kerumah, harus dikasih makan.
Pernah nih iseng iseng ane bilang, "nggak usah dikasih makan, dia anak orang kaya, lagi pula dia keseringan main kesini"
And they just say, "meskipun kaya, tapi dia jauh dari orang tuanya. Siapa tau uang kiriman nya udah habis, atau belum dapat kiriman. Kita nggak tau. Kami cuma mikir, seandainya kalian yang lagi ada diluar kota dan jauh dari kami, dan tiba tiba kalian kelaparan. Kami cuma berharap, jika suatu saat salah satu dari kalian jauh dari kami, akan ada orang yang welas pada kalian seperti kami memberi makan mereka yang jauh dari orang tua nya."
Pas SMA pun, ane punya seorang sahabat yang baru aja ditinggal ayahnya untuk selamanya. Kehidupan sebelumnya tergolong menengah keatas, setelah ayahnya meninggal, bisa dikatakan menjadi menengah ke bawah.
Usut punya usut uang sakunya minim sekali dan dia jarang makan. Ane ceritain dah ke bapak/ibuk. Dan mereka bilang, "ngomong ng koncomu, nggelem opo nggak nek misal bendino digawani Sego tapi lauk sak onok'e"
Ternyata temen ane mau. Tiap hari ane sekolah bawa 2 kotak nasi untuk ane dan sahabat. And u know, lauknya cuma tahu goreng sama nasi dan sambel. Kalau beruntung yah isinya kadang telur mata sapi + mie goreng. Maklum lah, bapak/ibuk ane kelas menengah kebawah banget.
Cuma dari situ ane mikir. Hati mereka dari apa sih? Udah tau dirinya sendiri susah, masih aja nyempetin ngasih makan anak orang lain meskipun seadanya. Ya, mereka cuma pengen suatu saat ketika anak anaknya berada dalam kondisi seperti itu, semoga tetap ada yang welas asih. Mereka berbuat kebaikan tak berharap balasan untuk diri mereka. Mereka hanya berharap kebaikan yang mereka tanam dapat dituai oleh anak anaknya.
Yah, ane sendiri udah menuai kebaikan mereka. Mereka banyak menganggap anak orang sebagai anak mereka sendiri. Dan banyak orang tua lain yang menganggap ane anak mereka.
Pernah nih, pas rapotan SMA. Nah tuh banyak wali murid datang kan. Ada beberapa bapak/ibu yang tiba tiba panggil ane, dan ane nggak ngerti siapa mereka. Eh Ternyata mereka orang tua temen temen ane yang lain. Dan mereka bilang "sehat anakku? / Lama nggak ketemu / kapan main kerumah? / Ibuk kangen"
Sumpil nih, ane belum pernah ketemu sama orang tua mereka. Kecuali yang udah pernah ketemu sama ane wajar kalo bilang gitu. Pas ane tanya ke anak kandungnya, ternyata mereka biangnya yang suka cerita sambil sebut sebut nama ane.
Cerita nya nih, tiap rapotan bapak/ibuk ane nggak pernah datang ambil rapot karena banyak tunggakan. Ane sebagai anak kudu memahami mereka yaudah lah nggak terlalu maksa harus ambil rapor. Tapi pas kelas 1 SMA, meskipun nggak lunas tunggakan, tapi ane tetep dapet rapor karena bapak temen ane berbaik hati bernego dengan wali kelas.
Nah, pas kelas 2 SMA pun juga begitu. Mbak temen ane sampe bertengkar sama wali kelas gara gara ane nggak dapat rapor cuma karena belum lunas tunggakan. She say, "anak tugasnya belajar, dia berhak liat hasil belajar nya. Soal biaya itu urusan orang tuanya. Nggak bisa anda menahan rapor dengan alasan belum lunas" (begitu inti percakapannya)
Pas kelas 3 juga gitu, wali kelas ane yang udah sering banget curhat sama ane bilang "untung awakmu telaten ngajari Konco koncomu nduk, dadi yo tak weh'i wes rapote, sakjane aku Iki yo pingin ngerti
Sing endi wong tuwo mu"
Banyak orang orang sekitar yang sering mengatakan "anggaplah aku sebagai orang tuamu juga"
Yep, aku jadi berpikir semua ini bukan karena kebaikan ku. Tapi karena kebaikan orang tuaku yang berimbas ke aku.
Orang tuaku punya banyak anak, dan aku punya orang tua. Sering nya begitu. Kebaikan yang kita terima dari orang lain, bukan murni balasan dari kebaikan kita sendiri. Bisa jadi itu balasan kebaikan dari orang tua/kerabat/teman buat kita.
Kalau ada kelebihan rezeki, bapak ibuk mesti ngirim ketiga anaknya. Kami, anak kandungnya, tiap ketiga anak itu datang, we say "Pak/buk, anakmu teko" 😂 (tanpa merasa iri ye)
Semua temen ane, kakak, ato adek banyak banget yang di anggap anak sama bapak/ibuk. Apalagi temen yang lagi nge-kost. Sebisa mungkin pas mereka kerumah, harus dikasih makan.
Pernah nih iseng iseng ane bilang, "nggak usah dikasih makan, dia anak orang kaya, lagi pula dia keseringan main kesini"
And they just say, "meskipun kaya, tapi dia jauh dari orang tuanya. Siapa tau uang kiriman nya udah habis, atau belum dapat kiriman. Kita nggak tau. Kami cuma mikir, seandainya kalian yang lagi ada diluar kota dan jauh dari kami, dan tiba tiba kalian kelaparan. Kami cuma berharap, jika suatu saat salah satu dari kalian jauh dari kami, akan ada orang yang welas pada kalian seperti kami memberi makan mereka yang jauh dari orang tua nya."
Pas SMA pun, ane punya seorang sahabat yang baru aja ditinggal ayahnya untuk selamanya. Kehidupan sebelumnya tergolong menengah keatas, setelah ayahnya meninggal, bisa dikatakan menjadi menengah ke bawah.
Usut punya usut uang sakunya minim sekali dan dia jarang makan. Ane ceritain dah ke bapak/ibuk. Dan mereka bilang, "ngomong ng koncomu, nggelem opo nggak nek misal bendino digawani Sego tapi lauk sak onok'e"
Ternyata temen ane mau. Tiap hari ane sekolah bawa 2 kotak nasi untuk ane dan sahabat. And u know, lauknya cuma tahu goreng sama nasi dan sambel. Kalau beruntung yah isinya kadang telur mata sapi + mie goreng. Maklum lah, bapak/ibuk ane kelas menengah kebawah banget.
Cuma dari situ ane mikir. Hati mereka dari apa sih? Udah tau dirinya sendiri susah, masih aja nyempetin ngasih makan anak orang lain meskipun seadanya. Ya, mereka cuma pengen suatu saat ketika anak anaknya berada dalam kondisi seperti itu, semoga tetap ada yang welas asih. Mereka berbuat kebaikan tak berharap balasan untuk diri mereka. Mereka hanya berharap kebaikan yang mereka tanam dapat dituai oleh anak anaknya.
Yah, ane sendiri udah menuai kebaikan mereka. Mereka banyak menganggap anak orang sebagai anak mereka sendiri. Dan banyak orang tua lain yang menganggap ane anak mereka.
Pernah nih, pas rapotan SMA. Nah tuh banyak wali murid datang kan. Ada beberapa bapak/ibu yang tiba tiba panggil ane, dan ane nggak ngerti siapa mereka. Eh Ternyata mereka orang tua temen temen ane yang lain. Dan mereka bilang "sehat anakku? / Lama nggak ketemu / kapan main kerumah? / Ibuk kangen"
Sumpil nih, ane belum pernah ketemu sama orang tua mereka. Kecuali yang udah pernah ketemu sama ane wajar kalo bilang gitu. Pas ane tanya ke anak kandungnya, ternyata mereka biangnya yang suka cerita sambil sebut sebut nama ane.
Cerita nya nih, tiap rapotan bapak/ibuk ane nggak pernah datang ambil rapot karena banyak tunggakan. Ane sebagai anak kudu memahami mereka yaudah lah nggak terlalu maksa harus ambil rapor. Tapi pas kelas 1 SMA, meskipun nggak lunas tunggakan, tapi ane tetep dapet rapor karena bapak temen ane berbaik hati bernego dengan wali kelas.
Nah, pas kelas 2 SMA pun juga begitu. Mbak temen ane sampe bertengkar sama wali kelas gara gara ane nggak dapat rapor cuma karena belum lunas tunggakan. She say, "anak tugasnya belajar, dia berhak liat hasil belajar nya. Soal biaya itu urusan orang tuanya. Nggak bisa anda menahan rapor dengan alasan belum lunas" (begitu inti percakapannya)
Pas kelas 3 juga gitu, wali kelas ane yang udah sering banget curhat sama ane bilang "untung awakmu telaten ngajari Konco koncomu nduk, dadi yo tak weh'i wes rapote, sakjane aku Iki yo pingin ngerti
Sing endi wong tuwo mu"
Banyak orang orang sekitar yang sering mengatakan "anggaplah aku sebagai orang tuamu juga"
Yep, aku jadi berpikir semua ini bukan karena kebaikan ku. Tapi karena kebaikan orang tuaku yang berimbas ke aku.
Orang tuaku punya banyak anak, dan aku punya orang tua. Sering nya begitu. Kebaikan yang kita terima dari orang lain, bukan murni balasan dari kebaikan kita sendiri. Bisa jadi itu balasan kebaikan dari orang tua/kerabat/teman buat kita.
25 September 2018
pertanyaan yang udah gak asing di telinga. Gimana ceritanya lulusan elektro (bukan pendidikan elektro) jadi guru. Yep, kalau ditelisik, jaman sekarang sih udah lumrah terjadi kerjaan gak sesuai dengan pendidikannya. Misal, pegawai bank, ada yang berasal dari pendidikan, hukum, bahkan teknik. But, kalau seperti pegawai bank sih diisi dari lulusan apa aja, selama SDM nya mau belajar, tetep oke oke aja. Tapi
tentang ridho orang tua, itu hal yang utama bagi saya. Saya gak akan ngoyo (ngotot) untuk mendapatkan sesuatu yang gak di ridhoi orang tua saya. Misal aja tentang pekerjaan. Saya basicly suka pekerjaan lapang. Ditambah lagi dasar ilmu yang udah ditekuni adalah teknik elektro. Pastinya, setelah lulus dari elektro, saya berniat untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan di bidang elektro juga. Setelah 3 bulan ngelamar dimana mana, tapi hasilya tetep nihil. Saya baru ingat, apa sih yang diridhoi sama orang tua? Apa sih yang mereka inginkan dariku? Apa yang mereka doakan untukku setiap hariya?
Satu hal yang pernah terlupakan tentang harapan orang tua. Sejak saya kecil, mereka ingin saya jadi guru. Mungkin karena mereka melihat kemampuan belajar saya yang bisa dibilang lebih baik dari ketiga saudara saya yang lain (This is fact. sekaligus mau nyombongin diri :p Gak maksud gitu juga sih :p) Awal saya diterima di elektro saja, orang tua bertanya mengapa tidak memilih jurusan yang bisa jadi guru? tapi apalah daya, saya udah diterima di elektro dan mereka baru bertanya tentang hal ini. Ya jadi saya ngeles (menyangkal) bahwa saya akan tetap bisa jadi guru tanpa harus kuliah di pendidikan dengan cara membuka Bimbel. ternyata bukan guru seperti yang mereka inginkan. Mereka tetap ingin anaknya bisa menjadi guru sungguhan (mengajar disekolah.red)
Suatu hari, suatu sekolah membutuhkan guru pengganti karena beberapa alasan. And u know, bapak menawarkan saya. Dari situ lah awal mula saya jadi guru.
Inget yah, meskipun bukan passionnya, yg namanya kerja harus tetap lillahi ta'ala. Biar yg kamu kerjakan bernilai ibadah, jalani dengan ikhlas. Selang 2 taun, baru dah ortu ridho dengan semua, saya diperbolehkan mendaftar apa saja, termasuk beasiswa. Di tahun ini, saya mendaftar beasiswa LPDP, meskipun belum lulus, yg penting ortu ridho
(Kok nggak nyambung kayaknya. 2 paragraf terakhir ditulis selang sebulan sama paragraf diatasnya. Jadi, saya lupa garis besar apa yg mau saya tulis. Hehe)
tentang ridho orang tua, itu hal yang utama bagi saya. Saya gak akan ngoyo (ngotot) untuk mendapatkan sesuatu yang gak di ridhoi orang tua saya. Misal aja tentang pekerjaan. Saya basicly suka pekerjaan lapang. Ditambah lagi dasar ilmu yang udah ditekuni adalah teknik elektro. Pastinya, setelah lulus dari elektro, saya berniat untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan di bidang elektro juga. Setelah 3 bulan ngelamar dimana mana, tapi hasilya tetep nihil. Saya baru ingat, apa sih yang diridhoi sama orang tua? Apa sih yang mereka inginkan dariku? Apa yang mereka doakan untukku setiap hariya?
Satu hal yang pernah terlupakan tentang harapan orang tua. Sejak saya kecil, mereka ingin saya jadi guru. Mungkin karena mereka melihat kemampuan belajar saya yang bisa dibilang lebih baik dari ketiga saudara saya yang lain (This is fact. sekaligus mau nyombongin diri :p Gak maksud gitu juga sih :p) Awal saya diterima di elektro saja, orang tua bertanya mengapa tidak memilih jurusan yang bisa jadi guru? tapi apalah daya, saya udah diterima di elektro dan mereka baru bertanya tentang hal ini. Ya jadi saya ngeles (menyangkal) bahwa saya akan tetap bisa jadi guru tanpa harus kuliah di pendidikan dengan cara membuka Bimbel. ternyata bukan guru seperti yang mereka inginkan. Mereka tetap ingin anaknya bisa menjadi guru sungguhan (mengajar disekolah.red)
Suatu hari, suatu sekolah membutuhkan guru pengganti karena beberapa alasan. And u know, bapak menawarkan saya. Dari situ lah awal mula saya jadi guru.
Inget yah, meskipun bukan passionnya, yg namanya kerja harus tetap lillahi ta'ala. Biar yg kamu kerjakan bernilai ibadah, jalani dengan ikhlas. Selang 2 taun, baru dah ortu ridho dengan semua, saya diperbolehkan mendaftar apa saja, termasuk beasiswa. Di tahun ini, saya mendaftar beasiswa LPDP, meskipun belum lulus, yg penting ortu ridho
(Kok nggak nyambung kayaknya. 2 paragraf terakhir ditulis selang sebulan sama paragraf diatasnya. Jadi, saya lupa garis besar apa yg mau saya tulis. Hehe)